Sekali Lagi Tentang TKI/TKW

Oleh: Muhsin Syihab

Kisah-kisah seputar TKI/TKW telah terlalu sering menghiasi media cetak dan elektronik, baik kisah sukses maupun kisah-kisah yang tidak jarang memaksa kita untuk mngernyitkan kening dan bahkan membuat kita geram. Kritik maupun dukungan terhadap program pengiriman TKI/TKW terus memicu perdebatan di masyarakat kita. Tulisan ini tidak sama sekali dimaksudkan untuk menambah runyam polemik yang ada dan cenderung tidak akan berakhir. Tulisan ini lebih merupakan sebuah refleksi diri atas sepercik pengalaman yang berkaitan dengan TKI/TKW.

Dua minggu yang lalu untuk sebuah kepentingan keluarga saya kembali ke tanah air menggunakan maskapai penerbagangn Kuwait Airways. Seperti layaknya rute perjalanan penerbangan, pesawat Kuwait Airways transit untuk beberapa waktu di Airport Kuwait. Ketika saya hendak menuju connecting flight gate, saya harus menyusuri toko-toko duty free di sekitar airport tersebut yang pramu niaganya banyak berasal dari Filipina dan Vietnam (tidak sama sekali saya jumpai dari Indonesia). Sesampainya di gate dimaksud saya terperanjat karena suasana Airport telah berubah menjadi perkampungan Indonesia karena dengan amat sangat jelas saya dapat mendengar para penumpang Indonesia yang notabene adalah TKW menggunakan beberapa bahasa daerah (umumnya Madura, Jawa dan Sunda) dan tentunya bahasa Indonesia juga.

Mengingat waktu penerbangan masih beberapa jam dan kebetulan ada delay, saya mencoba menghabiskan waktu untuk mengajak beberapa diantara mereka berbincang-bincang dengan menggunakan dua bahasa daerah yang saya ketahui (Madura dan Jawa) sembari ingin mengetahui pengalaman-pengalaman mereka berjuang sebagai orang yang sering disebut pahlawan devisa. Dari perbincangan tersebut, saya mendapat kesan bahwa perjuangan mereka memang sungguh tidak mudah. Perjuangan itu merupakan rangkaian rantai yang menuntut ketabahan menghadapi para calo-calo PJTKI di negeri pertiwi dan para majikan di negara tujuan yang umumnya adalah negara-negara dengan mayoritas penduduknya dan dominasi budayanya adalah Islam.

Menurut pengakuan mereka, kebanyakan diantara mereka didatangi oleh para makelar TKW ke kampung-kampung mereka dengan janji-janji yang menggiurkan seperti kecepatan proses pemberangkatan, biaya yang relatif murah serta janji mendapatkan imbalan bayaran yang katanya setara dengan eksekutif muda di Indonesia. Lalu apakah janji-janji tersebut terwujud?

Sebagian diantara mereka mengaku dapat mengecap kesuksesan perantauan mereka berpisah dari kampung halaman dan sanak-saudara yang meraka cintai, walaupun tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan indah sebelum meraka berangkat. Tetapi, sekian banyak lainnya, mengalami nasib yang sungguh jauh di luar dugaan mereka, baik perlakuan para calo TKI/TKW ataupun PJTKI dan lebih parah lagi adalah para majikan yang mereka harapkan dapat menjadi contoh terhadap praktik budaya Islam. Mereka mengaku harus menyediakan sejumlah uang yang sangat besar sebelum berangkat dan menunggu proses keberangkatan yang boleh dikata berbulan-bulan di ibukota. Untuk memenuhi biaya keberangkatan tersebut, banyak diantara mereka yang harus merelakan asset-asset tradisional mereka berupa sawah, ternak dan perhiasan untuk dijual demi mengejar nasib yang lebih baik. Sebagian mereka juga menceritakan proses administrasi pembuatan dokumen ASPAL (KTP, Surat Keterangan Sehat dan bahkan Paspor) sebagai dokumen perjalanan mereka.

Setelah tiba di tempat kerja yang baru, banyak diantara mereka dituntut untuk mengorbankan perasaan dan bahkan sampai batas tertentu hak-hak dasar kemanusiaan mereka. Banyak cerita tentang pemukulan, penganiayaan majikan kepada para TKW, sebagian lainnya menceritakan nasib kawannya yang gajinya tidak dipenuhi dibarengi dengan berbagai ancaman yang membuat mereka berada pada posisi yang serba salah. Sungguh menyedihkan! Cerita tersebut mengingatkan saya pada seorang kawan yang pernah menceritakan kepada saya tentang pengalamannya menangani kasus pelarian seorang TKW karena tidak mampu lagi memenuhi permintaan majikannya yang menjurus pada tindakan-tindakan asusila dan tak berperikemanusiaan.

Lebih menyedihkan lagi setibanya di tanah air, mereka sudah harus menyiapkan uang sekitar US$. 100 untuk dibayarkan pada jasa transportasi pengantaran mereka dari bandara Soekarno-Hatta ke kampung halaman. Jumlah yang cukup fantastis, jika jarak tempuhnya hanya sampai daerah-daerah di Jawa Barat atau bahkan sampai ke Madura sekalipun!

Dari berbagai gambaran umum diatas, ada beberapa hal yang menjadi bahan pemikiran saya yaitu; Pertama, TKI/TKW kita telah menjadi komoditi bagi para PJTKI yang dilakukan dengan cara mengeksploitasi rendahnya tingkat pendidikan mereka. Sedihnya pelakunya adalah bangsa kita sendiri!

Kedua, pengiriman TKI/TKW kita lebih banyak didominasi oleh tenaga kasar tidak seperti negara-negara tetangga lainnya yang lebih mengutamakan tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Pemandangan ekstrim di Airpot Kuwait cukup menjelaskan kepada saya hal tersebut, dimana toko-toko duty free dipenuhi oleh TKW dari Filipina dan Vietnam sementara saudara-saudara kita dari Indonesia lebih banyak menjadi PRT. Untuk hal ini, tampaknya pemerintah harus lebih memperhatikan peningkatan kualitas pengiriman TKI/TKW dengan menggunakan sistem recruitment yang lebih selektif.

Ketiga, proses perlindungan terhadap TKI/TKW harus lebih ditingkatkan. Banyak PJTKI yang tampaknya hanya ingin mengirim sebanyak-banyaknya TKI/TKW karena akan berbanding lurus dengan keuntungan yang dapat diraup, tanpa memperhatikan nasib mereka pasca pengiriman. Untuk hal ini, perlu koordinasi yang lebih ketat antara pihak pemerintah, PJTKI dan majikan yang akan mempekerjakan TKI/TKW tersebut. Jika dirasa perlu, kontrak yang ditandatangani antara majikan dan TKI/TKW disaksikan oleh Atase Tenaga Kerja atau pejabat konsuler KBRI setempat. Hal ini sangat diperlukan agar memungkinkan KBRI untuk memantau keberadaan dan hubungan antara TKI/TKW dan majikan yang bersangkutan.

Keempat, hendaknya pemerintah dapat memperhatikan rantai ekploitasi yang dilakukan oleh para calo PJTKI dan calo transportasi pengantaran pulang para TKW/TKI. Sebagai pahlawan devisa selayaknya mereka mendapat perlakukan terhormat sekembali dari medan perjuangan bukan sebaliknya justru dijadikan obyek untuk dieksploitasi. Sudah butakah kita dengan penderitaan mereka, apakah kita juga telah tuli dengan jeritan dan bahkan tangis mereka selama bekerja, atau memang kita berpura-pura tuli dan buta atas kenyataan tersebut?

About these ads

4 Responses to Sekali Lagi Tentang TKI/TKW

  1. rajab says:

    tesss

  2. arie says:

    duh, ngenes banget ngebacanya… tapi masi bersyukur bgt ada yang mo peduli dengan mereka..seperti Anda misalnya. Semoga ada seribu orang yang seperti Anda, paling tidak y

  3. Muna A says:

    Bagus mas,, minta izin ngopi ya buat tugas
    makasih

  4. thaher says:

    wacana ini amat berbobot buat melek bangsa kita yang maunya dan taunya hanya mengeksploitasi saudara kita yang semangat kerjanya hebat tapi rendah pendidikan. Brengseknya orang-orang kita yang maunya memeras saudara kita yang telah berusaha dan bekerja keras meninggalkan keluarga, berangkat ke negeri orang. begitu pulang banyak, bukan beberapa, tapi banyak sekali yang mau mengambil keuntungan dari pahlawan devisa tadi secara illegal alias tidak sah. Sadarlah kawan, semua mereka adalah saudara kita. maukah adik, kakak bahkan ibu kamu sendiri yang eksploitasi oleh orang lain. sadarlah…! bertaubatlah…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: